Sabtu, 01 Juni 2013

Naskala Abu-Abu

“ Aku pernah bermimpi, di dalam mimpi aku bilang “aku lagi di dalam mimpi.” ”, ujar Naskala di alam yang beradu dengan dunia nyata.

Sendiri. Gelap. Samar-samar. Terpaku dalam diri di tengah titik sinar yang terhanyut dalam sepi sembari memekik dalam diam.
Ia bernama Naskala, seseorang yang takut akan suatu hal. Namun, dengan alasan tak berwujud, alasan yang dimakan habis dengan kata-kata.
Di alam yang beradu dengan dunia nyata, Naskala berjalan pada aspal yang bergurau dengan dinginnya malam. Jalan dimana setapak kakinya menari di atas garis tak berujung. Garis tak berujung dilusuri lurus menjauh, ia melihat orang mati di dalam cermin. Parit-paritpun berbisik. Dan hilang.
“Sebenarnya apa yang terjadi? Dimana aku sekarang?” pekik Naskala penuh tanda tanya sembari berlari meraih jawaban.
Ya, kosong. Di sana kosong. Tak ada orang, tak ada jawaban. Bukan jawaban yang Naskala temui, melainkan panggilan. Panggilan dari bayangan hitam.
     Bayangan semu pada kelam di garis tak berujung. Semu dengan noda titik-titik hitam yang tidak sempurna bak lukisan pointilisme. Melusur semakin dekat, seekor anjing hitam bermata merah menatap dengan amarah memanggil Naskala dengan bergonggong. Dirasuk api. Selingan detik berganti, anjing itu berlari mengejar Naskala. Ntah apa yang terjadi, ntah apa yang dipikirkan di benak Naskala sekarang. Ia terus berlari. Anginpun berbisik. Dan hilang.
Ia menggigil. Ketakutan dan kedinginan menjadi kopi pahit dalam kalbunya. Pikiran Naskala sudah tak tentu arah lagi. Ia bingung. Ia kesal. Ia lelah. Ia terduduk di atas aspal. Menangis sembari menatap dengan tatapan kosong pada aspal. Dalam hati kecilnya, ia berharap dapat keluar dari hal aneh ini. Namun, tidak.
Ia menatap aspal. Seketika aspal itu berubah menjadi lubang-lubang kecil. Naskala sangat takut bahkan phobia dengan lubang-lubang kecil. Ya, ia trypophobia. Merinding dengan tangis. Seakan ia ingin merobek-robek muka. Ia tak sanggup melihat aspal itu, bahkan ia tak sanggup setapak kakinya menginjak aspal itu. Ia sangat lemas. Tak berdaya. Rasa ketakutannya memicu jantungnya berdetak cepat. Rasa ketakutannya menguras energinya. Rasa ketakutan itu membuat ia merinding hingga menggergaji sendi-sendi tulangnya. Ia mati dilindas ketakutan.
Pingsan. Pada detik yang sama, ia terbangun dan keluar dari dunia naskala. Matanya terbuka. Tak disadari, air mata telah membasahi pipinya. Naskala tertegun. Ia berkeringat dingin.
Naskala berdoa dan ia berharap semua hal itu tidak terulang kembali. Kini terlintas sebuah kalimat yang tertanam dalam benak Naskala ialah “Namun satu hal yang pasti adalah, yang paling ditakuti oleh rasa takut adalah ketakutan akan rasa takut yang tidak akan ditakuti lagi.”
Ya, ini Naskala dalam dunia naskalanya yang abu, abu. Semua tak berwujud, termasuk Naskala.

Sabtu, 01 Juni 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ucapan anda adalah cermin perilaku anda.

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.