Berjuta tanda tanya mengepung di depan mata, membuatku semakin bingung dengan arahan untuk bertindak.
Memang memendam itu sangat sering dan sangat menyenangkan untuk dilakukan. Karena untuk apa bercerita dengan orang yang hanya ingin sekedar mengetahui dan pergi. Dengan ingin tahu lebih banyak membawa mereka pada kegilaan dunia. Entahlah mungkin aku sulit untuk percaya.
Terkadang candaan serius dan serius candaan, apakah memang aku selalu menganggap semua hal untuk diseriusin?
Aneh. Sebagian besar mungkin beranggapan seperti itu. Layaknya orang kerterbelakangan mental yang sering dianggap orang itu aneh. Bukan. Bukan aneh itu, mungkin aneh yang meng-anehkan.
"Duh aku bicara sendiri ya?
Iya haha."
Sering kali aku duduk di depan cermin, dan melihat diri sendiri. Menggempulkan jari jemari dan membukanya.
"Kenapa aku bisa ada dan untuk apa?"
Sadar atau pernahkah mengalami perasaan ini, perasaan yang semakin bingung untuk apa hidup yang akan berakhir kematian.
Terlalu banyak teoris, hingga perbedaan pun muncul. Baik segi agama atau apapun.
Hingga beberapa orang tak lagi percaya dengan keyakinan untuk menyembahNya, bahkan tak percaya akan surga dan neraka. Tidak. Itu bukan aku.
Pelan-pelan mengenal orang. Mengenal sampai nyaman atau terpaksa untuk mengenal. Dikenal agar terkenal? begitu mungkin. Nah. Banyak naskah drama yang sering dilakonkan untuk dikenal. Sekarang tinggal melanjutkan drama atau mendramakan drama yang telah berkelanjutan. Dengan apa mendramakan drama? untuk tidak percaya, pada apa dan/atau siapa.
Detik yang bahkan sia-sia, coba bertanya sanggupkah diri untuk percaya? atau telah mempercayai diri sendiri sehingga sudah mencintai diri sendiri.
Namun untuk sekedar nafsu ketenaran,
percayakah?
..yn..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Ucapan anda adalah cermin perilaku anda.
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.